SASARAN DALAM EVALUASI

SASARAN DALAM EVALUASI

SASARAN DALAM EVALUASI

SASARAN DALAM EVALUASI
SASARAN DALAM EVALUASI

Pada materi sebelumnya kita telah membahas mengenai sasaran dari penilaian. Objek dan sasaran penilaian adalah segala sesuatu yang menjadi titik pusat pengamatan karena penilai menginginkan informasi tentang sesuatu tersebut. Unsur-unsur sasaran penilaian meliputi: input, transformasi, dan output.

Input merupakan bahan mentah yang akan diolah, transformasi adalah tempat untuk mengolah bahan mentah, sedangkan output adalah hasil pengolah yang dilakukan di dapur dan siap dipakai.

Dalam dunia pendidikan, khususnya dalam proses pembelajaran di sekolah, input atau bahan mentah yang akan diolah tidak lain adalah para calon peserta didik. Ditilik dari segi input ini, objek dari evaluasi pendidikan meliputi tiga aspek, yaitu aspek kemampuan, aspek kepribadian, aspek sikap. Dalam konsep Bloom barangkali aspek-aspek ini hampir sama dengan keluaran belajar yang dibagi olehnya menjadi tiga ranah yaitu ranah kognitif, afektif, psikomotor (Nurgiyantoro, 1988:24-25). Konsep seperti ini pula yang dituntut dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi. Dalam kurikulum ini aspek-aspek yang dievaluasi dimuat dalam standar kompetensi dan kompetensi dasar.

  • Input

Calon siswa sebagai pribadi yang utuh, dapat ditinjau dari beberapa segi yang menghasilkan berbagai macam bentuk tes yang digunakan sebagai alat untuk mengukur. Aspek yang bersifat rohani setidak-tidaknya mencakup 4 hal.

1)      Kemampuan (Aspek Kognitif)

Untuk dapat mengikuti program dalam suatu lembaga/sekolah/institusi maka calon siswa harus memiliki kemampuan yang sepadan. Alat ukur yang digunakan untuk mengukur kemampuan ini disebut tes kemampuan atau attitude test.

2)      Kepribadian (Aspek Psikomotor)

Kepribadian adalah sesuatu yang terdapat pada diri manusia dan menampakkan bentuknya dalam tingkah laku. Dalam hal-hal  tertentu, informasi tentang kepribadian sangat diperlukan. Alat untuk mengetahui kepribadian seseorang disebut tes kepribadian atau personality test.

3)      Sikap-sikap (Aspek Afektif)

Sebenarnya sikap ini merupakan bagian dari tingkah laku manusia sebagai gejala atau gambaran  kepribadian yang memancar keluar. Namun karena sikap ini merupakan sesuatu yang paling menonjol dan sangat dibutuhkan dalam pergaulan maka banyak orang yang menginginkan informasi khusus tentangnya. Alat untuk mengetahui keadaan sikap seseorang dinamakan tes sikap atau attitude test. Oleh karena tes ini berupa skala, maka lalu disebut skala sikap atau attitude scale.

4)      Intelegensi

Untuk mengetahui tingkat intelegensi ini digunakan tes intelegensi yang sudah banyak diciptakan oleh para ahli. Dalam hal ini yang terkenal adalah tes buatan Binet dan Simon yang dikenal dengan tes Binot-Simon. Selain itu ada lagi  tes-tes yang lain misalnya SPM, Tintum, dan sebagainya. Dari hasil tes akan diketahui IQ (Intelligence Quotient) orang tersebut. IQ bukanlah inteligensi. IQ berbeda dengan intelegensi karena IQ hanyalah angka yang memberikan petunjuk tinggi rendahnya intelegensi seseorang. Dengan pengertian ini maka kurang benarlah jika ada orang mengatakan “IQ jongkok” karena IQ berupa angka. Mestinya IQ rendah diartikan bahwa angkanya rendah.

Berkenaan hubungan antara sikap-sikap dan kepribadian, A.N Oppenheimdalam bukunya Questionnaire Design and Attitude Meansurement menjelaskan bahwa kepribadian merupakan sesuatu yang ada dalam diri manusia dan sangat dalam letaknya sehingga sangat susah dilihat.

  • Transformasi

      Telah dijelaskan bahwa banyak unsur yang terdapat dalam transformasi yang semuanya dapat menjadi sasaran atau objek penilaian demi diperolehnya hasil pendidikan yang diharapkan. Unsur-unsur dalam transformasi yang menajdi objek penilaian antara lain:

1)      Kurikulum atau materi

2)      Metode dan cara penilaian

3)      Sarana pendidikan atau media

4)      System administrasi

5)      Guru dan personal lainnya

  • Output

      Penilaian terhadap lulusan suatu sekolah dilakukan untuk mengetahui sebarapa jauh tingkat pencapaian atau prestasi belajar siswa selamam mengikuti program. Alat yang digunakan untuk mengukur pencapaian ini disebut tes pencapaian atauachievement test.

      Kecenderungan yang ada sampai saat ini di sekolah adalah bahwa guru hanya menilai prestasi belajar aspek kognitif atau kecerdasan saja. Alatnya adalah tes tertulis. Aspek psikomotorik, apalagi afektif, sangat langka dijamah oleh guru. Akibatnya dapat kita saksikan, yakni bahwa para lulusan hanya menguasai teori tetapi tidak terampil melakukan pekerjaan keterampilan, juga tidak mampu mengaplikasikan pengetahuan yang sudah mereka kuasai. Lemhanya pembelajaran dan evaluasi tehadap aspe afektif ini , jika kita mau instrospeksi, telah berakibat merosotnya akhlak para lulusan, yang selanjutnya berdampak luas pada merosotnya akhlak bangsa.

Baca Artikel Lainnya: