Radikalisme dan Intoleransi di Indonesia

Radikalisme dan Intoleransi di Indonesia – Nurcholish Madjid Society (NCMS) bareng Lembaga Pendidikan Lembaga Pendidikan (LP) Ma’arif Nahdlatul Ulama (NU) melangsungkan kajian titik temu dengan tema ‘Menggali Akar Radikalisme dan Intoleransi di Indonesia. Diskusi ini hendak menggali akar permasalahan radikalisme dan intoleransi di Indonesia, serta upaya yang dapat dilaksanakan untuk menangkal radikalisme dan intoleransi menyebar di masyarakat.

Munculnya gejala radikalisme berbasis agama tidak hanya diprovokasi oleh hal tunggal, tetapi ada hal lain yang berperan menyusun seseorang atau masyarakat menjadi radikal, demikian pengakuan Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya, Prof. Masdar Hilmy dalam diskusi di Surabaya.

Fenomena radikalisme agama ini kata Prof. Masdar Hilmy, mesti dinyatakan muncul dalam ayat-ayat di dalam buku suci, yang diterapkan tanpa adanya pertimbangan relevansi konteks yang menyertainya.

“Kita mesti rendah hati menuliskan bahwa memang di dalam teks suci anda ini ada tidak sedikit ayat-ayat yang mengajak kita ini guna berperang dan membunuh. Nah, persoalannya ialah apakah ayat-ayat tadi tersebut harus anda terapkan apa adanya tanpa mempertimbangkan relevansi konteksnya,” ujar Masdar.

Sementara, Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Ahmad Ishomuddin menilai akar timbulnya radikalisme diprovokasi oleh pemahaman ilmu agama yang dangkal, berhubungan maksud diturunkannya agama yang sesungguhnya unik orang pada kebajikan dan menghindarkan dari keburukan. Di samping pengetahuan agama yang rendah, radikalisme juga diprovokasi oleh wawasan yang tidak cukup luas dalam urusan kehidupan berbangsa dan bernegara, khususnya sehubungan dengan kebhinnekaan di Indonesia.

“Mereka tidak mempunyai ilmu agama yang mendalam, akhlak yang mulia, lebih mengedepankan hawa nafsu daripada ilmu. Selain pasti ada faktor-faktor yang lain, yang membentuknya, laksana merasa tertindas, merasa kalah dalam kompetisi di bidang ekonomi, kalah kompetisi di bidang politik, tidak menemukan solusi sehingga segala sesuatu mau ditamatkan dengan jalan kekerasan dan pengingkaran terhadap perbedaan-perbedaan. Padahal tersebut bukan merupakan solusi untuk menjangkau suatu titik temu, tetapi malah menimbulkan kegaduhan, memunculkan korban bahkan terhadap orang-orang yang berbeda,” tukas Ahmad.

Membaca situasi ketika ini, Ketua Dewan Pembina Nurcholish Madjid Society (NCMS), Omi Komaria Madjid mengatakan, radikalisme dan intoleransi dapat ditanggulangi dengan menyuruh semua unsur bangsa guna bersikap rendah hati dalam beragama. Berdasarkan keterangan dari Omi, sekian banyak keanekaragaman yang dipunyai Indonesia adalahanugerah Tuhan yang mesti diterima dan disyukuri, sebagai format pengakuan dan kepatuhan insan pada kehendak Tuhan.

“Kebhinnekaan tersebut secara positif terima bahwa tersebut sebagai anugerah dari Tuhan. Nah sebab augerah dari Tuhan, tersebut kita tidak boleh mengingkari dan lagipula melawan, karena bila mengingkari atau melawan, berarti mengingkari atau melawan kehendak Tuhan itu. Maka dari itu, anda secara aktif mewujudkan itu, merawat pemberian Tuhan itu,” ujar Omi.

Ahmad Ishomuddin menambahkan, masyarakat pemeluk agama di Indonesia mesti pulang pada doktrin agamanya masing-masing, yang mengajarkan kebajikan dan cinta kasih dalam hidup di dunia. Umat beragama kata Ishomuddin, mesti inginkan belajar agama secara benar, dengan bimbingan pemuka agama atau ulama yang terpercaya keilmuannya.

“Khusus untuk Nahdliyin, ikutilah semua Kyai NU yang ilmunya terpercaya, mendalam di bidang agama, dan mereka orang-orang yang cinta tanah air. Orang yang sungguh-sungguh mendalami ilmunya dan cinta tanah air, tidak bakal membuat kehancuran di tanah airnya sendiri. Dia tidak akan melakukan dzolim untuk orang lain,” tukasnya di https://www.bahasainggris.co.id/

Menanggapi urusan itu, Fauzan, penduduk Surabaya menilai upaya deradikalisasi yang dilaksanakan pemerintah sudah lumayan baik, walau tidak lumayan hanya ditujukan pada mantan napi terorisme. Fauzan mengatakan, butuh sosialisasi menyeluruh untuk masyarakat tentang bahaya intoleransi dan radikalisme untuk persatuan dan kesatuan bangsa. Materi kontra radikalisme mesti diserahkan kepada sekolah-sekolah yang sekitar ini menjadi lahan subur persemaian embrio kebencian, bila tidak hendak gerakan anti intoleransi dan radikalisme melulu sebagai retorika belaka.

baca juga : Dunia Pendidikan Indonesia Terbebani Aturan Administrasi