Perjuangan Indonesia Melawan Penjajah

Perjuangan Indonesia Melawan Penjajah

Pendudukan Belanda di Indonesia
Awal abad ke lima belas bangsa Eropa mengadakan penjelajahan samudera. Tujuannya yaitu mencari kekayaan (gold), kejayaan (gospel), & menyebarkan agama Nasrani (glory). Salah satu kebutuhan yang amat dibutuhkan oleh bangsa Eropa yang berikilm dingin adalah rempah-rempah. Rempah-rempah berfungsi untuk obat-obatan, penyedap makanan, dan pengawet makanan.

Daerah penghasil rempah-rempah yang populer sejak zaman dahulu ialah Maluku. Bangsa Eropa ini belanja rempah-rempah secara langsung dari Maluku. Ada lebih dari satu alasan mengapa mereka menyukai rempah-rempah dari Maluku. Pertama, kualitas rempah-rempah Maluku amat bagus. Kedua, harganya lebih murah dibandingkan dengan harga area lain.
Pada mulanya tujuan utama bangsa Eropa mampir ke Indonesia ialah untuk cuma berdagang. Akan tetapi, tujuan selanjutnya selanjutnya beralih jadi menjajah. Beberapa bangsa Eropa yang pernah mampir & menjajah bangsa Indonesia yaitu bangsa Portugis, Spanyol, Belanda,& Inggris. Belanda merupakan bangsa yang paling lama menjajah bangsa Indonesia, yaitu sepanjang 350 tahun.
Dalam upaya mencari jalan ke Indonesia mulanya pelaut -pelaut Belanda mencari jalan melalui Kutub Utara. Usaha ini ternyata tidak berhasil. Kemudian mereka mencari jalan lain, yaitu melalui Tangiung Harapan (Cape of Good Hope), Afrika Selatan. Setelah berlayar sepanjang 14 bulan, pada akhirnya tanggal 22 Juni 1596, armada Belanda sukses mendarat di Banten. Rombongan ini dipimpin oleh Cornelis de Houtman

Tujuan utama Belanda mampir ke Indonesia ialah untuk berdagang, lebih-lebih untuk belanja rempah-rempah. Mula-mula, Belanda menunjukan sikap bersahabat dengan masyarakat Banten. Akan tetapi, pada akhirnya Belanda menyatakan sikap serakah & kasar. Tindakan ini, yang memicu masyarakat Banten marah & memusuhi belanda. kehadiran Belanda tidak beroleh sambutan yang baik dari masyarakat. Dan akibatnya, armada Belanda tidak sanggup melanjutkan perjalanan ke Maluku untuk mencari rempah-rempah, mereka pada akhirnya kembali ke negeri Belanda melalui Bali. Armada Belanda yang pertama ini mengalami kerugian besar. Meskipun demikian, rombongan mereka udah mendapatkan jalan ke Indonesia.

Pada tahun 1598, untuk kedua kalinya armada Belanda tiba di Banten. Armada ini dipimpin oleh Jacob van Neck, disusul kehadiran armada yang dipimpin oleh Warwijk. Sejak sementara itu, orang-orang Belanda berlomba-lomba mampir ke Indonesia. Terbukanya jalan perdagangan ke Indonesia memicu munculnya kompetisi di antara para pedagang. Persaingan itu berjalan antara sesama pedagang Eropa lainnya. Untuk memenangkan kompetisi dagang dengan bagssa Eropa lain maupun dengan sesama bagsa Belanda sendiri, Pemerintah Belanda membentuk persatuan (kongsi) dagang. persatuan dagang Belanda selanjutnya didirikan terhadap tanggal 20 Maret 1602. Namanya ialah Vereenigde Oost indische Compagnie (VOC), artinya Persatuan Dagang Hindia Timur. Tujuannya adalah mencari keuntungan sebesar-besarnya melawan pesaing-pesaignya, baik dari dalam maupun luar Belanda layaknya Portugis, Inggris, Spanyol. Untuk kelancaran bisnis dagangnya, Pemerintah Belanda berikan hak monopoli kepada VOC untuk:

1) Membuat perjanjian dengan raja-raja
2) Menyatakan perang dan mengadakan perdamaian
3) Membuat senjata dan mendirikan benteng
4) Mencetak Uang
5) Mengangkat dan memberhentikan pegawai

Pieter Both diangakat sebagai Gubernur jenderal VOC yang pertama dan bekedudukan di Ambon. VOC melakuka monopoli perdagangan rempah-rempah. Artinya, rempah-rempah cuma boleh dijual kepada VOC dengan harga yang udah ditentukan dengan VOC. Ketika Jan Pieterszoon Coen jadi Gubernur Jenderal, pusat VOC dipindahkan dari Ambon ke Jayakarta (Jakarta) terhadap tanggal 31 Mei 1619. Nama Jayakarta diganti jadi Batavia. Alasan pemindahan kantor VOC dikarenakan letak Jayakarta dianggap strategis begi pelayaran dan perdagangan. Selain itu, Jayakarta lebih dekat dengan Tanjung Harapan. Sejak bermarkas di Jayakarta, sikap VOC semakin kasar dan mereka mulai menjajah bangsa Indonesia. Akibatnya timbul perlawanan di mana-mana. Walaupun VOC mendapat perlawanan dari rakyat Indonesia, mereka terhadap pada akhirnya sanggup menguasai kerajaan-kerajaan di Indonesia. Belanda dengan ringan menguasai kerajaan-kerajaan di Indonesia dengan mobilisasi politik adu domba (Devide et Impera). Maksudnya, Belanda mengadu raja-raja dari beragam kerajaan yang tersedia di Indonesia untuk saling bermusuhan. Belanda berpura-pura membela salah satu dari kerajaan yang berselisih, dengan syarat kerajaan selanjutnya mesti tunduk kepada Belanda. menjelang abad ke-19, situasi keuangan VOC semakin memburuk, sehingga VOC mengalami kebangkrutan. Akibatnya terhadap tanggal 31 Desember 1799, VOC dibubarkan. Kekuasaan VOC diambil alih alih oleh pemerintah Belanda.

Pada akhir abad ke-18, berjalan pergantian politik di Eropa. Pada tahun 1806, Napoleon Bonaparte (kaisar Prancis) sukses menaklukan Belanda. Napoleon lantas mengubah wujud negara Belanda dari republik jadi kerajaan. Sebagai Gubernur Jenderal Belanda di Indonesia, Napoleon mengangkat Herman Willem Daendels. Tujuannya adalah menyiapkan diri untuk hadapi serangan dari Inggris. Untuk memperkuat pertahanan di Pulau Jawa, Daendels memerintahkan pembuatan jalan raya yang amat panjang. Tujuannya untuk mempercepat pergerakan pasukan Belanda jika berjalan peperangan. Jalan raya itu terbentang dari Anyer (Banten) samapai Panarukan (Jawa Timur). Untuk mempercepat pembuatan jalan raya itu, Daendels memerintahkan rakyat Indonesia bekerja tanpa upah. Siapa yang membangkang akan disiksa. Rakyat Indonesia yang miskin dan melarat semakin menderita dengan terdapatnya kerja paksa tersebut. Akibatnya, tidak sedikit bangsa Indonesia yang jadi korban. Mereka banyak yang mati kelaparan dan di serang penyakit malaria. Kerja paksa ini disebut rodi. Tindakan Daendels selanjutnya memicu hubungannya dengan penguasa pribumi jadi renggang. Salah seorang pribumi yang menentang Daendels ialah Pangeran Kusumadinata dari Sumedang, Jawa Barat. Beliau tidak berkenan memandang rakyat Sumedang yang ikut kerja paksa itu jadi korban. Kekejaman yang ditunaikan Gubernur Jenderal Daendels terhadap rakyat Indonesia pada akhirnya didengar Napoleon. Pada tahun 1811, Daendels dipanggil kembali ke negeri Belanda dan digantikan oleh Jansen.

Pada tahun 1830, Johannes van den Bosch diangkat sebagai Gubernur Jenderal menggatikan Van Der Capellen. Ia diberi tugas mencari uang manfaat mengisi kas negara Belanda yang udah kosong akibat perang. Van den Bosch memberlakukan tanam paksa (Cultuurstelsel). Pemerintah Belanda mengerahkan tenaga rakyat untuk menanam tanaman yang hasilnya sanggup dijual di pasaran dunia. Misalnya teh. kopi, tembakau, tebu dan lain-lain. sebenarnya. rakyat Indonesia tidak akan mulai sengsara jika ketetapan tanam paksa ditunaikan dengan benar. Tetapi dalam pelaksanaanya, tidak sesuai dengan ketetapan yang ditetapkan. Pihak Belanda semakin melakukan tindakan sewenag-wenagnya. Hasil tanaman rakyat dibayar dengan harga amat murah. Tanam paksa mengakibatkan penderitaan bagi rakyat. Beban yang mesti dialami rakyat semakin berat. Hasil pertanian semakin turun. Bencana kelaparan berjalan dimana-mana. Tidak sedikit rakyat Indonesia yang mati kelaparan. Sebaliknya proses tanam paksa ini amat untungkan Belanda. Kas negara yang tadinya kosong kini terisi kembali. Semua hasil tanam paksa di angkut ke Belanda.

Aturan tanam paksa selanjutnya sebagai berikut:
1) Penduduk Wajib sediakan seperlima dari tanahnya untuk ditanami tanaman yang laku di passaran Eropa.
2) Tanah yang dipakai untuk tanaman mesti tanam ini dibebaskan dari pajak tanah.
3) Hasil tanaman mesti tanam itu mesti diserahkan kepada pemerintah belanda.
4) Kerusakan-kerusakan yang tidak sanggup dicegah oleh petani jadi tanggungan pemerintah.
5) Pekerajaan yang ditunaikan untuk menanam tanaman mesti tidak boleh melebihi pekerjaan yang dibutuhkan untuk menanam padi.
6) Mereka yang bukan petani mesti bekerja 66 hari dalam setahun untuk pemerintah Belanda

Akibat pelaksanaan tanam paksa, penderitaan yang dialami bangsa indonesia semakin bertambah. kemiskinan dan kelaparan selalu mengancam. Ternyata, tersedia terhitung orang Belanda yang tidak puas dengan diberlkukannya tanam paksa, Di antara bangsa Belanda yang menentang tanam paksa ilalah Edward Douwes Dekker dan Van Hoevel. Edward Douwes Dekker, mantan asisten Residen Lebak, mengecam tanam paksa ini melalui bukunya yang berjudul Max Havelaar. Dalam buku itu, Douwes Dekker Mengenakan nama samaran Multatuli. Dalam buku Max Havelaar diceritakan perihal penderitaan rakyat Indonesia akibat pelaksanaan tanam paksa. Selama 31 tahun bangsa indonesia mengalami keterbelakangan dan kebodohan.

Untuk itu Multatuli dengan kata lain Douwes Dekker mendesak pemerintah Belanda sehingga tanam paksa langsung dihapuskan. Akhirnya sehabis melalui pembicaraan seru di parlemen Belanda, tanam paksa mulai dihapuskan secara bertahap. https://www.biologi.co.id/6-ciri-ciri-makhluk-hidup/

2. Pendudukan Jepang di Indonesia

Pada tanggal 8 Desember 1941, armada angkatan laut Jepang menyerang pangkalan angkatan laut Amerika Serikat di Pearl Harbour (Kepulan Hawaii). Setelah penyerangan tersebut, Jepang menyatakan perang terhadap Amerika Serikat. Pada sementara itu, Belanda merupakan sekutu Amerika Serikat. Sebagai rasa setia kawan, Belanda pun menyatakan perang terhadap Jepang. Pernyataan itulah yang dijadikan alasan Jepang untuk menyerang Indonesia. Akibatnya pecahlah perang Asia Timur Raya. Dalam sementara singkat, pasukan Jepang menyerbu dan menempati Filipina, Burma (sekarang Myanmar), Malaya, Singapura, dan Indonesia. Serbuan Jepang tanggal 26 Desember 1941 sukses melumpuhkan pertahanan Hindia Belanda di Indonesia. Pasukan Jepang sukses menghancurkan pangkalan dan pertahanan udara Hindia Bekanda di Tondano, Sulawesi Utara. Pada tanggal 10-11 Januari 1942, pasukan Jepang mendarat di Tarakan, Kalimantan Timur. Pada tanggal 23 Januari 1942, Jepang menempati Balikpapan, terhitung di Kalimantan Timur. Selanjutnya tanggal 14 Februari 1942 giliran Palembang, Sumatera Selatan jatuh ke tangan Jepang. Pada tanggal 16 Februari 1942, Plaju, Sumatera Selatan terhitung sukses dikuasai Jepang. Kota-kota yang diduduki dan dikuasai Jepang selanjutnya adalah kota penghasil minyak bumi. Setelah itu, Perhatian Jepang diarahkan ke Pulau Jawa. Pada tanggal 1 Maret 1942, tentara Jepang sukses mendarat secara serempak di tiga area Pulau Jawa, yaitu di kira-kira Merak dan Teluk Banten, di kira-kira Eretan Wetan, Cirebon, dan di Desa Krangan, Sebelah timur Pasuruan, Jawa Timur. Penyerangan Jepang ke Pulau Jawa ini dipimpin oleh Letnan Jenderal Hitoshi Imamura. Jakarta sanggup diduduki dan dikuasai Jepang terhadap tanggal 5 Maret 1942 sehingga pemerintah Hindia Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang. Panglima angkatan perang Hindia Belanda, Letnan Jenderal Ter Poorten, atas nama seluruh Angkatan Perang Sekutu, pada akhirnya menyerah tanpa syarat terhadap Angkatan Perang Jepang yang dipimpin oleh Letnan Jenderal Hitoshi Imamura. Gubernur Jenderal Hindia Belanda, yaitu Tjarda van Stakenborgh Stachouwer menyerahkan pemerintah Hindia Belanda kepada Jepang. Upacara penyerahan itu berjalan di Kalijati (dekat Subang), Jawa Barat. Dengan penyerahan Belanda tanpa syarat tersebut, berakhirlah penjajahan Belanda di Indonesia.

Baca Juga :