Pengamatan terhadap Fakta Sosial

Pengamatan terhadap Fakta Sosial

Pengamatan terhadap Fakta Sosial

Pengamatan terhadap Fakta Sosial
Pengamatan terhadap Fakta Sosial

Menurut Durkheim aturan terpenting

dan terutama dalam mengamati fakta sosial adalah memandang fakta sosial sebagai benda. Aturan ini jelas menunjukkan posisi positivism-empirisisme dari Durkheim. Posisi inilah yang dielaborasi lebih lanjut dalam bab kedua buku The Rules of Sociological Method.

Dalam menjelaskan cara pengamatan (observation) yang tepat terhadap fakta sosial, Durkheim menekankan perbedaan antara pengamatan objektif yang didasarkan pada pengamatan terhadap objek sebagaimana adanya dan pengamatan subjektif yaitu pengamatan terhadap objek berlandaskan ide kita terhadap benda itu.

Jika kita mendasarkan pengamatan kepada ide kita, maka bagi Durkheim itu sama dengan kepercayaan, karena kepercayaan itu adalah seperti ide yang telah ada mendahului pengamatan. Jika kita hanya mengandalkan idea, kita tidak bisa melihat fakta sosial sebagaimana adanya, karena kita akan melihatnya dengan memastikan apakah fakta itu sesuai ide kita atau tidak. Menurut Durkheim pengamatan seperti itu bukan lagi pengamatan ilmiah tetapi suatu bentuk seni. Baginya sosiologi tidak dapat mengandalkan ide untuk memahami fakta, karena itu berarti fakta sosial menjadi produk pikiran manusia. Durkheim berpendapat fakta sosial tidak dapat dihasilkan dari pikiran manusia tetapi harus merupakan produk aktifitas manusia.[7]Jika fakta sosial itu adalah sebuah produk aktifitas manusia, yaitu bagaimana fakta tersebut terus-menerus ada dan mengalami proses dalam sejarah kehidupan manusia maka fakta sosial yang kita dapatkan akan lebih akurat dan konkrit dibandingkan jika itu adalah produk pikiran manusia.

Dengan melihat fakta sosial sebagai sesuatu yang konkrit

kita akan dapat memahami hal-hal yang partikular daripadanya dan dengan demikian kita akan mampu membuat generalisasi yang tepat. Sebagai contoh jika kita mengkaji organisasi keluarga, kontrak, hukuman, atau negara maka jika organisasi-organisasi tersebut diteliti berdasarkan ide kita tentang masing-masing organisasi tersebut, maka kita tidak akan dapat memahami organisasi-organisasi itu dengan tepat. Hanya dengan mengamati dengan seksama aktifitas-aktifitas individu di dalamnya maka kita dapat memahami organisasi itu dengan tepat. Berangkat dari pemikirannya itu, Durkheim menekankan pentingnya naturalitas dari objek penelitian suatu ilmu termasuk di dalam etika, ekonomi dan hukum yang menurutnya sangat menekankan peran ide, sehingga yang disebut sebagai teori ekonomi, hukum dan etika adalah hasil dari dialektika dan hanya berupa suatu ide (sesuatu yang bersifat seharusnya/ought to be) yang tidak memiliki interkoneksitas dengan kenyataan, bahkan bersifat doktrinal.[8]Naturalitas di sini bagi Durkheim mengacu pada bahwa sesuatu itu harus dipahami dari bagaimana sesuatu itu berlangsung atau dipraktekkan dalam aktifitas manusia.

Menurut Durkheim, prinsip utama

dalam memahami semua fenomena sosial adalah memahami bahwa semua itu adalah benda, sehingga kita tidak perlu memfilosofikan keberadaannya dan menganalogikannya untuk memudahkan pemahaman terhadapnya. Menurutnya kita perlu menggunakan pendekatan yang ilmiah (scientific) dimana fenomena dicatat sebagai data sosiologis yang unik yang memiliki karateristiknya sendiri. Memperlakukan fenomena sosial sebagai benda adalah memperlakukannya sebagai data, dan inilah yang menjadi titik tolak suatu ilmu.[9]Tiga cara yang disebutkan Durkheim dalam meneliti suatu obyek, yaitu mengamati (observing), mendeskripsi (describing), membandingkan (comparing).[10] Melalui ketiga hal tersebut kita dapat membuat suatu generalisasi dari keunikan-keunikan atau partikularitas dari fakta sosial yang kita temukan. Dengan demikian bisa dilihat bahwa Durkheim menilai metode yang tepat adalah induktif, karena metode deduktif hanya akan menghasilkan pengamatan yang sifatnya umum saja karena tidak berangkat dari pengamatan yang ketat terhadap setiap fakta yang ada.

Berangkat dari pemikirannya di atas

Durkheim selanjutnya mengemukakan kritik terhadap Comte dan Spencer yang telah membuat penelitian sosiologi menekankan subjektifitas dan modifikasi terhadap fakta sosial dan menghasilkan teori yang bersifat doktrinal akibat peran penting ide dalam pemikiran kedua tokoh tersebut. Hal serupa juga ditemuinya dalam ilmu lainnya seperti psikologi. Namun Durkheim melihat bahwa ada peluang yang besar bagi sosiologi dibandingkan psikologi untuk meluruskan kembali pengamatan terhadap objek peneitiannya sebagai suatu benda. Berbeda denga psikologi yang mengamati manusia dari dalam dirinya, maka sosiologi mengamati fakta sosial yang berada di luar dan independen terhadap pelaku, berkembang dalam perjalanan sejarah kehidupan manusia dan dapat dicatat sebagai data-data statistik.

Berkenaan dengan peletakan dasar sosiologi sebagai ilmu yang khusus mempelajari fakta sosial, Durkheim menetapkan aturan-aturan  prinsip yang harus diterapkan dalam sosiologi. Aturan-aturan tersebut adalah konsekuensi dari logika bahwa fakta sosial adalah benda.[12]

Aturan pertama adalah bahwa semua pra-konsepsi harus dihapuskan.[13] Bagi Durkheim penghapusan pra-konsepsi adalah suatu yang mutlak sebagai basis dari metode ilmiah. Durkheim melihat pentingnya aturan ini juga untuk memampukan kita lepas dari pengaruh konsepsi politik  dan agama yang banyak berperan pada saat kita mengamati fakta sosial. Pengaruh politik dan agama yang sangat mungkin bersifat doktrinal dan/atau mistis ini akan mengaburkan penerapan metode ilmiah saat mengamati fakta sosial yang pada akhirnya akan mengaburkan pemahaman kita terhadap fakta sosial itu sebagai sesuatu yang benar secara ilmiah.

Aturan kedua adalah bahwa subyek dari setiap penelitian sosiologi harus mencakup sekelompok fenomena yang terdefinisikan dengan karakteristik eksternal tertentu yang umum dari kelompok tersebut, dan keseluruhan fenomena itu harus dimasukkan dalam kelompok ini. Berdasarkan aturan ini, Durkheim menegaskan bahwa yang paling menentukan adalah bagaimana fakta sosial itu menampakkan dirinya dan kita mencatat penampakan yang bersifat fisik itu tanpa menginterpretasinya. Inilah yang disebut sebagai naturalitas dari fakta tersebut (the nature of things). Disini berarti hanya terjadi hermeneutika tunggal seperti yang terjadi dalam penelitian ilmu alam.

Lebih lagi melalui aturan ini Durkheim berusaha menunjukkan bahwa penelitian yang dilakukan didasarkan pada fakta sosial itu adalah penelitian yang bukan berdasarkan pandangan umum terhadap fakta sosial tersebut. Pandangan umum memang bisa membantu namun tidak seluruhnya dapat berguna bagi kepentingan ilmiah yang sudah ditentukan tujuannya. Aturan ini juga penting karena dalam tradisi sosiologi masa Durkheim saat itu, konsep-konsep yang sudah akrab dalam kehidupan sehari-hari seperti keluarga, kejahatan, hak milik, sudah diterima begitu saja tanpa dirasa perlu untuk mendefinisikannya dari luar secara ketat, padahal bisa saja masih terdapat ambiguitas dalam konsep-konsep tersebut. Contohnya, konsep monogami, secara fakta dan secara hukum sebenarnya dapat saja berbeda pengertiannya.

Sumber : http://devitameliani.blog.unesa.ac.id/makna-proklamasi-bagi-indonesia