Orang Tua Siswa Kecewa Usul Tambahan Pagu PPDB SMP Ditolak

Orang Tua Siswa Kecewa Usul Tambahan Pagu PPDB SMP Ditolak

Orang Tua Siswa Kecewa Usul Tambahan Pagu PPDB SMP Ditolak

Orang Tua Siswa Kecewa Usul Tambahan Pagu PPDB SMP Ditolak
Orang Tua Siswa Kecewa Usul Tambahan Pagu PPDB SMP Ditolak

Orang tua siswa yang mengusulkan penambahan pagu penerimaan peserta didik baru (PPDB) sekolah menengah pertama di Kabupaten Jember, Jawa Timur, kecewa berat.

Kekecewaan dipicu oleh penolakan Dinas Pendidikan Jember terhadap usulan penambahan pagu untuk SMP perkotaan. “Dispendik tidak memberikan solusi konkret dengan masalah yang ada. Bukankah yang menjadi masalah adalah solusi bagaimana soal siswa yang tidak punya pilihan lain karena jarak sekolah terdekat tidak bisa menampung?” kata Endro Jatmiko, orang tua siswa, Kamis (27/6/2019).

Berdasarkan informasi via WhatsApp yang disampaikan pendamping Komisi D DPRD Jember Anang Bachtiar kepada beritajatim.com, Kamis (27/6/2019), Dispendik menyatakan belum ada penambahan berdasarkan analisis jumlah ruang kelas maupun rasio guru.

“Jawaban Dispendik hanyalah lips service dan sangat normatif agar kesan yang dibangun adalah sudah menjawab pertanyaan wali murid,” kata Endro.

Dispendik Jember menyatakan permintaan tambahan rombongan belajar

berasal dari SMP Negeri 1 Tempurejo dan SMP Negeri 2 Puger. “Bukankah hal itu juga terjadi di SMP 3 Jember di mana pada hari pertama saja sudah ‘membuang’ 117 siswa, sementara pagunya hanya 232 Siswa. Jika di Puger bisa ditambahi pagu lantas kenapa untuk Jember tidak bisa,” kata Endro.
Baca Juga:

Demo PPDB: Ini Keluhan dan Protes Guru SMP Swasta
Siswa Luar Kabupaten Serbu PPDB di Jombang
PPDB 2019 di Surabaya Akan Pakai Sistem Zonasi?
Jokowi Akui Sistem Zonasi PPDB di Lapangan Perlu Dievaluasi

Pemerhati pendidikan dan orang tua siswa Safa Ismail menambahkan,

penambahan rombel menjadi sesuatu yang penting untuk pengumuman. “Sebagai pemerhati pendidikan tentu menyayangkan jika dinas tetap dengan teguh pada kebijakannya. Daerah kota dengan populasi padat juga perlu dipikirkan,” kata Safa.

Wakil Ketua Komisi D Suwignyo Widagdo bisa memahami kekecewaan orang tua. “Kalau dilihat distribusinya terbukti sekolah favorit lebih menjadi pilihan orang tua. Sekolah-sekolah di kota atau ibu kota kecamatan yang selama ini dianggap relatif berkualitas pagu telah terpenuhi. Dengan demikian sebenarnya sesuatu yang rasional ketika rombel itu ditambah untuk sekolah di kota dan populasinya banyak,” katanya.

“Hasil hearing kan maunya begitu dan itu kami amini dengan catatan harus

menggunakan jalur prestasi, apalagi jalur prestasi kuota juga tidak tercapai. Ini untuk mengakomodir anak-anak yang punya nilai baik tapi tersingkir hanya karena jarak. Sisi politisnya sebenarnya kalo diakomodir akan bisa mengurangi kekecewaan masyarakat yang selama ini merasa dirugikan,” kata Suwignyo

 

Sumber :

https://compass.centralmethodist.edu/ICS/Academics/OTA/OTA107__CM16/SPRG_2017_UNDG-OTA107__CM16_-A/Blog_3.jnz?portlet=Blog_3&screen=View+Post&screenType=next&&Id=889b0356-668f-4260-adb3-adcf5059fd9a