Menjadi Pekerja dan Ikut May Day 2019

Menjadi Pekerja dan Ikut May Day 2019

“Apakah anda ikut memperingati hari buruh sedunia atau may day?” Saya jawab, iya. Tahun ini jadi kali pertama aku terlampau memaknai hari sakral bagi para pekerja tersebut. Pasalnya, aku sudah nyaris setahun lulus dan memasuki dunia lain yang diberi nama dunia kerja. Saya menganggap bahwa dunia kerja itu sebuah tantangan yang menyenangkan. Bulan pertama aku lalui bersama gembira di tempat kerja, bulan ke dua aman, bulan ketiga tetap semangat, bulan keempat jadi berpikir kok gini ya? Mulai bulan ke lima hingga sekarang, acara ‘sambat’ seperti drama sinetron yang tak kunjung tamat. Hiks

Bagi aku tak tersedia hal yang lebih menyakinkan sebelum mengalaminya sendiri. Begitu terhitung susahnya jadi seorang pekerja. Saya ulang teringat ucapan tidak benar satu senior di Unit Kegiatan Kampus (UKM) yang pernah pernah aku mengikuti semasa kuliah. Kurang lebih dia berbicara seperti ini “Mending anda ditempa di sini (UKM), dunia luar lebih kejam!”. Saat itu aku pikir dia sedang membual, wong dia mengatakan itu bersama wajah angkuhnya gitu, ya mana aku dengarkan ucapannya. Tapi sekarang, aku merasakan sendiri. Ibarat posisi, pekerja itu tersedia di tengah. Dari atas memperoleh tekanan dari atasan, dari bawah bisa desakan dari para konsumen. Sesak nggak tuh?.

Nah, sebab aku sudah merasakan sendiri bagaimana rasanya jadi seorang pekerja, aku tidak dambakan dong moment may day ini terkendali begitu saja. Pagi ini aku berada di depan gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jember. Untuk demo kah? Bukanlah. Saya mengetahui diri, bersama postur tubuh yang mungil, jikalau ikut demo malah di kira anak kecil atau lebih parahnya kena injek. Hehe. Libertarian Art Space mengadakan aksi seni untuk solidaritas hari buruh sedunia. Saya bantu-bantu dikitlah membuat jaga stan food not bombs yang mereka adakan. Selama memelihara stan ini, aku sempat berbincang-bincang bersama para pengunjung stan yang sedang menikmati makanan gratis.

Sudah nonton Dilan 1991? Saya sempat berbincang bersama supir angkotnya, tetapi bercanda hehe. Namanya Suyitno, seorang ayah supir angkot yang sudah berumur 59 tahun. Dia jadi supir angkot sudah sejak tahun 1997. Selama 22 tahun, dia bekerja jadi pagi hingga malam dan tak mengenal hari libur. Selama itu pula dia tidak merasakan kehidupan yang sejahtera.

Gimana bisa sejahtera, penghasilannya tiap hari tak tentu, tetapi duit setoran sewa angkot perlu selalu ada,” ucapnya sambil menyendok nasi pecelnya.

Beberapa menit sehabis ayah supir angkot itu pergi, mampir seorang ibu bersama jalur kaki. Ibu itu memandang stan kita bersama penasaran. Salah seorang kawan segera menawari untuk mampir dan menyita makanan yang ada. Ibu itu bersama sangsi mendekat dan menanyakan apakah makanan ini terlampau gratis. Kami memastikan jikalau dia bisa makan bersama gratis. Meski bersama gugup, ibu itu menyita nasi dan lauk pauk.

Namanya Arsiah, perempuan berusia 60 tahun. Arsiah tidak bekerja sebab ia perlu memelihara anaknya yang miliki penyakit ayan, agar tidak bisa ditinggal sendiri. Suaminya sudah meninggal, agar tulang punggung keluarga tersedia apa anak perempuannya yang berusia 30 tahun. Anak perempuannya bekerja di sebuah toko. Dia menceritakan anaknya yang perlu bekerja setiap hari, lebih-lebih selagi tanggal merah sekalipun. Jam kerjanya jadi dari pukul 06.00 hingga sore. Jika lembur, bisa hingga pukul 21.00. Meski demikian, keperluan keluarganya belum terpenuhi. Arsiah dan anak perempuannya perlu melacak pekerjaan sampingan lainnya untuk menutup keperluan sehari-hari.

Arsiah berlalu, datanglah Sucipto. Namanya nampak lelaki, tetapi dia seorang perempuan. Dia menjual sayur di depan gedung Pegadaian yang tak jauh dari gedung DPRD Jember. Para mahasiswa pemburu sayur sepertinya kenal bersama sosoknya. Jualan selagi hari tetap pagi dan akan pulang hingga dagangannya habis. Bagi Sucipto, berjualan terhitung bukan hal ringan terutama selagi harga keperluan pokok naik menjelang ramadhan. Hal ini pengaruhi penghasilannya yang digunakan untuk kehidupan sehari-hari.

“Mau ngeluh ya serupa siapa, gini tetap hidupnya,” ucapnya lirih.

Matahari makin lama terik, peluh jadi bercucuran. Para pengisi acara aksi tetap bergelora memberikan penampilan terbaiknya. Tak sedikit pula para pengendara yang lewat, menolehkan kepalanya penasaran ke arah berlangsungnya aksi seni. Bahwa para buruh atau pekerja perlu memperoleh kesejahteraan didalam hidup mereka jadi fokus didalam aksi seni.

Di tempat berbeda, berjalan kekerasan oleh Polisi terhadap dua pekerja tempat di peringatan May Day Bandung. Meski rezim begitu represi, teruslah semangat para pekerja untuk melawan!

Sumber : https://www.ruangguru.co.id/download-contoh-surat-penawaran-harga-yang-benar/