MACAM-MACAM TES OBJEKTIF

MACAM-MACAM TES OBJEKTIF

MACAM-MACAM TES OBJEKTIF

MACAM-MACAM TES OBJEKTIF
MACAM-MACAM TES OBJEKTIF

Tes Benar-Salah (True False Test)

Tes tipe benar salah (true false test) adalah tes yang butir soalnya terdiri dari pernyataan yang disertai dengan alternatif jawaban yaitu jawaban atau pernyataan yang benar dan yang salah. Orang yang ditanya bertugas untuk menandai masing-masing pernyataan itu dengan melingkari huruf “B” jika pernyataan itu betul menurut pendapatnya dan melingkari huruf “S” jika pernyataan tersebut menurut pendapatnya salah.

Contoh:             

B – S Kabupaten pekalongan terletak di provinsi Jawa Tengah.

Tes bentuk obyektif banyak memberi peluang testee untuk bermain spekulasi. Bentuk benar salah ada dua macam (dilihat dari segi mengerjakan/menjawab soal), yakni:

1)      Dengan pembetulan (without correction), yaitu siswa diminta membetulkan bila ia memilih jawaban yang salah.

2)      Tanpa pembetulan (without correction), yaitu siswa hanya diminta melingkari huruf B atau S tanpa memberikan jawaban yang betul.

  1. Kebaikan Tes Benar-Salah

1)      Dapat mencakup bahan yang luas dan tidak banyak memakan tempat karena biasanya pertanyaan-pertanyaannya singkat saja.

2)      Mudah menyusunnya

3)      Dapat digunakan berkali-kali

4)      Dapat dilihat secara cepat dan objektf

5)      Petunjuk cara mengerjakannya mudah dimengerti

  1. Keburukan Tes Benar-Salah

1)      Sering membingungkan

2)      Mudah ditebak/diduga

3)      Banyak masalah yang tidak dapat dinyatakan hanya dengan dua kemungkinan benar atau salah

4)      Hanya dapat mengungkap daya ingatan dan pengenalan kembali

  1. Petunujuk penyusunan

1)      Tulislah huruf B-S pada permulaan masing-masing item dengan maksud untuk mempermudah mengerjakan dan menilai (scoring).

2)      Usahakan agar jumlah butir soal yang harus dijawab B sama dengan butir soal yang harus dijawab S. Dalam hal ini hendaknya pola jawaban tidak bersifat teratur misalnya B-S-BS-B-S atau SS-BB-SS-BB-SS.

3)      Hindari item yang masih bisa diperdebatkan:

Contoh: B-S. Kelayakan lebih penting daripada kepandaian.

4)      Hindari pertanyaan-pertanyaan yang persis dengan buku

5)      Hindari kata-kata yang menunjukan kecenderungan memberi saran seperti yang dikehendaki oleh item yang bersangkutan, misalnya: semuanya, tidak selalu, tidak pernah, dan sebagainya.

  1. Cara mengolah skor
  • Dengan denda, dengan rumus:

S = R – W

S = Skor yang diperoleh.

R = right (jawaban yang benar)

W = wrong (jawaban yang salah)

Contoh:

Jumlah soal tes = 20 buah

A menjawab betul 16 buah dan salah 4 buah. Maka skor A adalah

16 – 4 = 12

Dengan menggunakan rumus ini maka akan ada kemungkinan seorang siswa memperoleh skor negatif.

  • Tanpa denda, dengan rumus:

S = R

Yang dihitung hanya betul.

(Untuk soal yang tidak dikerjakan nilainya 0).

Tes Pilihan Ganda (Multiple ChoiceTest)

Tes pilihan ganda adalah tes dimana setiap butir soalnya memiliki jumlah alternatif jawaban lebih dari satu. Tes ini terdiri atas suatu keterangan atau pemberitahuan tentang suatu pengertian yang belum lengkap. Dan untuk melengkapinya harus memilih satu dari beberapa kemungkinan jawaban yang telah disediakan.

Setiap tes pilihan ganda terdiri dari dua bagian, yaitu: (1) Pernyataan atau disebut juga stem, dan (2) alternatif pilihan jawaban atau disebut pula options.

Contoh:

Stem atau pokok soal:

Di jawa tengah terdapat beberapa buah candi. Salah satu candi tersebut mempunyai ciri fisik yang berbeda dari candi lainnya lain, karena candi ini termasuk salah satu keajaiban dunia. Candi manakah yang dimaksud?

Pilihan jawaban:

  1. Candi Borobudur
  2. Candi Prambanan
  3. Candi Mendut
  4. Candi Roro jonggrang
  5. Komplek candi Dieng

Dari contoh diatas stem atau pokok soal dapat terdiri dari pertanyaan. Sedangkan pilihan jawaban (options) terdiri dari alternatif pilihan jawaban. Salah satu dari alternatif pilihan itu adalah jawaban yang benar terhadap pertanyaan. Dalam hal ini ditandai dengan asteriks (*). Jawaban tersebut dinamakan kunci jawaban. Alternatif jawaban yang bukan kunci dinamakan pengecoh atau distractors. Jadi dalam pilihan (options) ada pilihan yang bukan kunci.

  1. Penggunaan tes pilihan ganda

Tes bentuk pilihan ganda ini merupakan bentuk tes objektif yang paling banyak digunakn karena banyak sekali materi yang dapat dicakup.

Bentuk-bentuk soal yang digunakan di dalam Ujian Akhir Nasional  maupun SNMPTN ada 4 variasi:

  • Pilihan ganda biasa
  • Hubungan antarhal (pernyataan-SEBAB-pernyataan)
  • Kasus (dapat muncul dalam berbagai bentuk)
  • Asosiasi

Contoh soal bentuk asosiasi:

Petunjuk Pilihan.

(A)       Jika (1), (2), dan (3) betul

(B)        Jika (1) dan (3) betul

(C)        Jika (2) dan (4) betul

(D)       Jika hanya (4) yang betul

(E)        Jika semuanya betul

Soal:

Ditinjau dari tata bentuk kata, maka gabungan kata yang betul di antara 4 (empat) gabungan kata berikut adalah:

(1)   Perserikatan bangsa-bangsa

(2)   Para alumnus

(3)   Suatu pemikiran-pemikiran

(4)   Dewan gereja

Contoh bentuk soal sebab akbat antarahal yang terdiri dari dua buah pernyataan dengan kata “sebab” di antara keduanya, sudah disajikan sebagai contoh soal analisis.

  1. Petunjuk penyusunan

Pada dasarnya, soal bentuk pilihan ganda ini adalah soal bentuk benar salah juga, tetapi dalam bentuk jamak. Tercoba (testee) diminta membenarkan atau menyalahkan setiap stem dengan tiap pilihan jawab. Kemungkinan jawaban itu biasanya sebanyak tiga atau empat buah, tetapi adakalanya dapat juga lebih banyak (untuk tes yang akan diolah dengan computer banyaknya option diusahakan 4 (empat) buah.

Contoh:

Kambing dapat digolongkan sebagai:

  1. Kata sifat
  2. Kata bilangan
  3. Kaa benda
  4. Kata kerja

Cara menulis soal di atas adalah lebih baik daripada jika pilihan jawaban disusun ke samping.

Contoh:

  1. She (go, going, went, has gone) to school yesterday.
  2. I have (to be, was, been) working since early in the morning.

Hal demikian akan mempersukar dan menghambat jalannya pemeriksaan. Cara mengatasinya ialah dengan menyediakan tempat tersendiri untuk menuliskan jawaban-jawaban itu.

Cara memilih jawaban dapat dilakukan dengan jalan:

  1. a)Mencoret kemungkinan jawaban yang tidak benar
  2. b)Memberi garis bawah pada jawaban yang benar (dianggap benar)
  3. c)Melingkari atau memberi tanda kurung pada huruf di depan jawaban yang dianggap benar.
  4. d)Membubuhkan tanda kali (x) atau tambah (+) di dalam kotak atau tanda kurung di depan jawaban yang telah disediakan.
  5. e)Menuliskan jawaban pada tempat yang telah disediakan.
  6. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam tes pilihan ganda

1)      Instruksi pengerjaannya harus jelas, dan bila dipandang perlu baik disertai contoh mengerjakannya.

2)      Dalam tes pilihan ganda, hanya ada “satu” jawaban yang benar. Jadi tidak mengenal tingkatan-tingkatan benar, misalnya benar nomor satu, benar nomor dua, dan sebagainya.

3)      Kalimat pokok hendaknya mencakup dan sesuai dengan rangkaian manapun yang dapat dipilih.

4)      Kalimat pada tiap butir soal hendaknya sesingkat mungkin.

5)      Usahakan menghindarkan penggunaan bentuk negatif dalam kalimat pokoknya.

6)      Kalimat pokok dalam setiap butir soal hendaknya tidak tergantung pada butir-butir soal lain.

7)      Gunakan kata-kata: “manakah jawaban yang paling baik”, pilihlah satu yang pasti lebih baik dari yang lain”, bilamana terdapat lebih dari satu jawaban yang benar.

8)      Jangan membuang bagian pertama dari suatu kalimat.

Contoh: _____ kita sudah merdeka kita bekerja sama ­_____ kita masing-masing.

  1. Andaikata _____ maka _____
  2. Meskipun _____ boleh _____
  3. Negara ________ maka _____
  4. Walaupun _____ tidak seharusnya _____
  5. Tahun 1945 ____ dan ____

9)      Dilihat dari segi bahasanya, butir-butir soal jangan terlalu sukar.

10)  Tiap butir soal hendaknya hanya mengandung satu ide. Meskipun ide tersebut dapat kompleks.

11)  Bila dapat disusun urutan logis antarpilihan-pilihan, urutkanlah (misalnya: urutan tahun, urutan alphabet, dan sebagainya).

12)  Susunlah agar jawaban mana pun mempunyai kesesuaian tata bahadsa dengan kalimat pokoknya.

13)  Alternatif yang disajikan hendaknya agak seragam dalam panjangnya, sifat uraian maupun taraf teknis.

14)  Alternatif-alternatif yang disajikan hendaknya agak bersifat homogen mengenai isinya dan bentuknya.

15)  Buatlah jumlah alternative pilihan ganda sebanyak empat. Bilaman terdapat kesukaran, buatlah pilihan-pilihan tambahan untuk mencapai jumlah empat tersebut. Pilihan–pilihan tambahan hendaknya jangan terlalu gampang diterka karena bentuknya atau isinya.

16)  Hindarkan pengualangan suara atau pengulangan kata pada kalimat pokok di alternatif-alternatif, karena anak akan cenderung memilih alternatif yang mengandung penulangan tersebut. Hal ini disebabkan karena dapat diduga itulah jawaban yang benar.

17)  Hindarkan menggunakan susunan kalimat dalam buku pelajaran. Karena yang terungkap mungkin bukan pengertiannya melainkan hafalannya.

18)  Alternatif-alternatif hendaknya jangan janagn inklusif dan jangan sinonim.

19)  Jangan gunakan kata-kata indicator seperti selalu, kadang-kadang, pada umumnya.

  1. Cara mengolah skor:
  • Dengan denda, dengan rumus:

S = skor yang diperoleh peserta tes (Raw Score)

R = jumlah jawaban yang betul

W = jumlah jawaban yang salah

O = banyaknya pilihan (option)

1 = bilangan tetap

Contoh:

murid menjawab betul 17 soal dari 20 soal. Soal bentuk multiple choice ini dengan menggunakan option sebanyak 4 buah.

Skor =

  • Tanpa denda, dengan rumus:

S = R

Jadi, yang dihitung hanya jawaban yang benar saja.

Tes Menjodohkan (Matching Test)

Matching test dapat kita ganti dengan istilah mempertandingkan, mencocokkan, memasangkan atau menjodohkan. Matching test terdiri atas satu seri pertanyaan dan satu seri jawaban. Masing-masing pertanyaan mempunyai jawabannya yang tercantum dalam seri jawaban.Tugas peserta tes adalah mencari dan menempatkan jawaban-jawaban, sehingga sesuai atau cocok dengan pertanyaannya.

Contoh:

“Pasangkanlah pertanyaan yang ada pada lajur kiri dengan pernyataan yang ada pada lajur kanan dengan cara menempatkan huruf yang terdapat di muka pernyataan lajur kiri pada titik-titik yang disediakan pada lajur kanan.”

1.      Masuknya penduduk dari negara lain.

2.      Pindahnya penduduk ke negara lain

3.      Pindahnya penduduk dari desa ke kota.

4.      Pindahnya penduduk antar pulau dalam suatu negara.

Transmigrasi …….

  1. Imigrasi ………….
  2. Emigrasi …………
  3. ……………………

Cara menjawabnya dapat ditulis:

  1. Transmigrasi          : Pindahnya penduduk antar pulau dalam suatu negara.
  2. Imigrasi                 : Masuknya penduduk dari negara lain.
  3. Emigrasi                : Pindahnya penduduk ke negara lain

Atau dengan menulis huruf depannya:

  1. Transmigrasi          :  (4)
  2. Imigrasi                 :  (1)
  3. Emigrasi                :  (2)

Kiranya cara yang kedua ini lebih efisien; baik dipandang dari segi guru yang akan memeriksa pekerjaan tersebut. Bentuk matcing test ini dapat pula dipandang sebagai multiple choice berganda.

Petunjuk-petunjuk yang perlu diperhatikan dalam menyusun tes bentuk ini adalah:

1)      Seri pertanyaan-pertanyaan dalam matcing test hendaknya tidak lebih dari sepuluh soal (item). Sebab pertanyaan-pertanyaan yang banyak itu akan membingungkan murid. Juga kemungkinan akan mengurangi homogenitas antar item-item itu. Jika itemnya cukup banyak, lebih baik dijadikan dua seri.

2)      Jumlah jawaban yang harus dipilih, harus lebih banyak daripadajumlah soalnya (lebih kurang 1 kali). Dengan demikian murid dihadapkan kepada banyak pilihan, yang semuanya mempunyai kemungkinan benarnya, sehingga murid terpaksa lebih mempergunakan pikirannya.

3)      Antara item-item yang tergabung dalam satu seri matcing test harus merupakan pengertian-pengertian yang benar-benar homogen.

Cara mengolah skor:

Rumus untuk mencari skor dalam tes tipe menjodohkan adalah:

S = R

Dimana, S = skor yang diperoleh peserta tes (Raw Score)

R = jumlah jawaban yang betul

Jadi, yang dihitung adalah yang jawabannya benar saja, sedangkan yang jawabannya salah tidak dihitung atau diberi skor.

Tes Isian (Completion Test)

  1. Pengertian

Completion test biasa kita sebut dengan istilah tes isian, tes menyempurnakan, atau tes melengkapi. Completion test terdiri atas kalimat-kalimat yang ada bagian-bagiannya yang dihilangkan. Bagian yang dihilangkan atau yang harus diisi oleh murid ini adalah merupakan pengertian yang kita minta dari murid.

Contoh:

  1. Columbus menemukan Benua Amerika pada tahun ______
  2. Air akan membeku pada suhu ______ derajat Fahrenheit

Ada juga completion test yang tidak berbentuk kalimat-kalimat pendek seperti di atas, tetapi merupakan kalimat-kalimat berangkai dan memuat banyak isian.

Contoh:

Di mulut, makanan dikunyah dan dicampur dengan _____ (1) yang mengandung _____ (2) berguna untuk menghancurkan _____ (3) kemudian ditelan melalui _____ (4) masuk  ke _____ (5) Di sini dicampur lagi dengan (6) ______ dan seterusnya.

Jawaban-jawaban tidak perlu ditulis di tempat yang dikosongkan, sebab cara demikian akan menyukarkan pemeriksaan. Tetapi sediakanlah tempat tersendiri dengan nomor unit ke bawah. Oleh karena itu, dalam membuat soal, tempat-tempat isian harus diberi nomor seperti di atas.

Contoh tempat jawaban:

  1. ……………………
  2. ……………………
  3. ……………………
  4. ……………………
  5. ……………………
  6. ……………………
  7. ……………………

Dengan demikian akan mempermudah dan mempercepat waktu pemeriksaan. Perlu diperhatikan bahwa dalam menyusun soal-soal melengkapi, jangan lupa memberikan “kunci pembuka” untuk dapatnya soal-soal itu dikerjakan.

Misalnya :

______ menemukan ______ pada tahun ______

Soal di atas adalah tidak memberikan kunci pembuka. Oleh karena itu, tidak dapat dikerjakan, atau dapat dikerjakan dengan berbagai macam jawaban. Tetapi dengan membubuhkan completion test, “Columbus” ataupun “Edison” di bagian muka, maka menjadi tegaslah jawabannya.

Cara scoring :                                    S = R

(sama dengan bentuk matching).

  1. Petunjuk penyusunan

Saran-saran dalam menyusun tes bentuk isian ini adalah sebagai berikut:

1)      Perlu selalu inget diingat bahwa kita tidak dapat merencanakan lebih dari satu jawaban yang kelihatan logis.

2)      Jangan mengutip kalimat / pernyataan yang tertera pada buku / catatan.

3)      Diusahakan semua tempat kosong hendaknya sama panjang.

4)      Diusahakan hendaknya setiap pernyataan jangan mempunyai lebih sari satu tempat kosong.

5)      Jangan mulai dengan tempat kosong.

Misalnya:

Ibukota Indonesia adalah _____ (lebih baik).

_____ adalah ibukota Indonesia (kurang baik).

  1. Bilamanakah digunakan tes subjektif ?

Tes bentuk esai digunakan apabila:

1)      Kelompok yang akan tes kecil, dan tes itu tidak akan digunakan berulang-ulang.

2)      Tester (guru) ingin menggunakan berbagai cara untuk mengetahui kemampuan siswa dalam bentuk tertulis.

3)      Guru ingin mengetahui lebih banyak tentang sikap-sikap siswa dari pada hasil yang telah dicapai.

4)      Memiliki waktu yang cukup banyak untuk menyusun tes.

  1. Bilamanakah digunakan tes objektif

1)      Kelompok yang akan di tes banyak dan tesnya akan digunakan lagi berkali-kali.

2)      Skor yang diperoleh diperkirakan akan dapat dipercaya (mempunyai reliabilitas yang tinggi).

3)      Guru lebih mampu menyusun tes bentuk objektif dari pada tes bentuk esai (uraian).

4)      Hanya mempunyai waktu sedikit untu koreksi dibandingkan dengan waktu yang digunakan untuk menyusun tes. Pada umumnya, guru seyogianya menggunakan dua macam bentuk tes ini dalam perbandingan 3 : 1, yaitu 3 bagian untuk tes objektif, dan 1 bagian untuk tes uraian.

Sumber: https://duniapendidikan.co.id/