Kosmopolitanisme dalam Teori “Civilizing Process”

Kosmopolitanisme dalam Teori “Civilizing Process”

Kosmopolitanisme dalam Teori “Civilizing Process”

Kosmopolitanisme dalam Teori “Civilizing Process”
Kosmopolitanisme dalam Teori “Civilizing Process”

Saling keterikatan manusia yang saat ini kita alami bukanlah

semata ada karena adanya kecanggihan telekomunikasi dan jaringan informasi yang mampu menembus batas-batas geografis negara. Melampaui semua itu, kaum kosmopolitan menilai, terdapat adanya nilai yang dimiliki bersama (shared values) yang menjauhkan manusia dari kemampuannya untuk melakukan kekerasan (harm). Nilai yang dimiliki bersama ini merupakan bentuk kosmopolitanisme moral[1]. Nilai ini terus menyebar dan muncul dalam kesadaran setiap masyarakat di seluruh dunia dan merupakan petunjuk adanya suatu konvensi kosmopolitan tentang anti kekerasan (cosmopolitan harm conventions)[2] yang diterima secara umum dan menjadi semacam code of conduct tentang perilaku yang beradab. Adanya kosmopolitanisme moral ini juga menjadi pendorong terbentuknya kosmopolitanisme politik yaitu masyarakat internasional. Menurut Andrew Linklater, salah satu teoritisi ilmu Hubungan Internasional yang dianggap sebagai kosmopolitanis,[3] Teori Pemberadaban dari Norbert Elias adalah teori yang dapat menjelaskan bagaimana kosmopolitanisme moral muncul dan diterima dalam suatu masyarakat serta menyebar dalam interaksi antar masyarakat.[4] Walaupun Norbert Elias tidak secara khusus membahas bagaimana konvensi itu terbentuk dalam interaksi antar masyarakat di Eropa yang menjadi unit analisanya, namun teori Elias yang mengedepankan bagaimana keutamaan (virtue) dan alasan (reason) yang dihasilkan melalui proses pemberadaban[5] merupakan suatu penjelas bagaimana sikap anti-kekerasan itu kini semakin menjadi norma yang diterima dan diterapkan di seluruh dunia. Dalam makalah ini akan dijelaskan mengenai teori pemberadaban dari Norbert Elias dan bagaimana teori ini dapat dijadikan penjelas bagaimana konvensi kosmopolitan tentang anti-kekerasan dapat terbentuk melalui interaksi antar masyarakat di dunia.

Kata kunci:

proses pemberadaban, Norbert Elias, kosmopolitanisme, konvensi kosmopolitan anti kekerasan, masyarakat internasional.

Sejak berakhirnya Perang Dunia II

dan terbentuknya Perserikatan Bangsa-Bangsa, konvensi yang bersifat internasional semakin mendapat tempat sebagai norma yang mengatur bagaimana hubungan antar negara dan antar masyarakat di dunia berjalan. Salah satu teoritisi Ilmu Hubungan Internasional (HI) dari aliran Critical Theory, Andrew Linklater berpendapat bahwa sebagai ilmu yang secara khusus mempelajari hubungan antara negara dan antar bangsa, HI perlu menggali keterkaitannya dengan ilmu-ilmu lainnya guna memahami bagaimana fenomena seperti berkembangnya norma-norma yang mengatur hubungan antar bangsa dan antar negara itu terbentuk. Sejak buku pertamanya Men and Citizens in International Relations Theory diterbitkan, Andrew Linklater telah menekankan pentingnya untuk melihat HI sebagai ilmu yang tidak hanya mempelajari segala sesuatu yang terjadi dalam hubungan antar bangsa saja tetapi melihat juga apa yang terjadi di dalam suatu bangsa yang berpengaruh terhadap dan dipengaruhi oleh segala sesuatu yang terjadi di dalam hubungan antar bangsa.[6] Berkenaan dengan itu, Andrew Linklater juga melihat perlunya memahami Hubungan Internasional secara sosiologis. Linklater melihat teori pemberadaban (civilizing process) dari Norbert Elias sangat membantu untuk memahami bagaimana kosmopolitanisme itu benar-benar ada, ditandai dengan adanya masyarakat internasional (society of states) yang memiliki suatu konvensi kosmopolitan tentang anti kekerasan.[7]

Bertolak dari pemikiran Linklater di atas

makalah ini akan menelaah mengapa dan bagaimana teori pemberadaban dari Norbert Elias ini dapat dipakai untuk memahami terbentuknya masyarakat internasional dan bagaimana dalam masyarakat itu muncul dan berkembang konvensi kosmopolitan anti kekerasan. Untuk tujuan tersebut, dengan mengacu pada buku Richard Kilminster, Norbert Elias: Post-philosophical Sociology dan Florence Delmotte, About Post-National Integration in Norbert Elias’s Work Towards a Socio-Historical Approach, akan diuraikan terlebih dahulu mengenai teori pemberadaban dari Norbert Elias dengan penekanan sebagaimana yang disampaikan Elias sendiri bahwa peradaban bukanlah suatu kondisi (state) melainkan suatu proses (process) dan bagaimana dalam proses itu muncul suatu aturan berperilaku yang dapat dilihat sebagai cikal-bakal kehadiran kosmopolitanisme moral yang disebut Linklater sebagai konvensi kosmopolitan tentang anti kekerasan.

Dalam bagian selanjutnya diuraikan pemikiran Linklater bagaimana transformasi yang terjadi dalam proses pemberadaban menurut Elias itu juga mempengaruhi hubungan suatu masyarakat dengan masyarakat lain. Pengaruh proses pemberadaban ini, menurut Linklater menjelaskan bagaimana masyarakat internasional tercipta dan didalamnya berkembang konvensi kosmopolitan tentang anti kekerasan. Pada bagian akhir penulis akan memberikan evaluasi terhadap pemikiran Linklater khususnya berkaitan dengan bagaimana Linklater menggunakan teori proses pemberadaban Elias dalam memahami hubungan internasional dan munculnya konvensi kekerasan anti kekerasan. Penulis melihat bahwa dalam memahami dan mengaplikasikan teori pemberadaban Elias khususnya untuk menjadikan teori tersebut sebagai bukti terbentuknya masyarakat internasional dan munculnya konvensi kosmopolitan anti kekerasan, Linklater mempunyai kelebihan sekaligus kelemahan terkait pemahamannya terhadap teori Norbert Elias.

Proses Pemberadaban menurut Norbert Elias

Norbert Elias (1897-1990) dikenal sebagai seorang sosiologis historis dengan latar belakang pendidikan filsafat yang kuat. Dari sekian banyak karyanya yang ditulis dalam rentang waktu karir akademiknya yang panjang, The Civilizing Process: Sociogenetic and Psychogenetic Investigations adalah tulisannya yang paling dikenal dan yang membuatnya digolongkan sebagai pemikir utama di bidang kebudayaan.[8] Dengan menggunakan pendekatan historis, Elias meneliti hubungan perubahan keseimbangan kekuasaan dalam masyarakat dan perubahan habitus[9] yang terkait yang nampak dari perilaku budaya perorangan di masyarakat kelas menengah ke atas Eropa selama 5 abad dari akhir Abad Pertengahan sampai abad ke-19. Dinamika hubungan itulah yang oleh Elias diinterpretasi dengan menggunakan metode hermeneutika[10] dan dinamainya sebagai proses pemberadaban (civilizing process). Hubungan perubahan keseimbangan kekuasaan dalam masyarakat dan perubahan habitus yang terkait selama lima abad itu menunjukkan adanya transformasi perilaku masyarakat Eropa kelas menengah ke atas yang menyebar ke seluruh masyarakat Eropa melalui proses panjang dan menjadikan masyarakat Eropa secara umum berperilaku seperti saat ini.

Elias membagi The Civilizing Process dalam dua volume.[11] Volume satu berjudul “Perubahan dalam Perilaku Masyarakat Barat Sekuler Kelas Atas” (Changes in the Behaviour of the Secular Upper Classes in the West)[12] merupakan paparan historis sosiologis tentang bagaimana transformasi masyarakat Eropa itu berlangsung selama lima abad. Sedangkan dalam volume kedua yang berjudul “Pembentukan Negara dan Peradaban” (State Formation and Civilization) Elias menganalisa paparan historis sosiologisnya di volume satu dalam kaitannya dengan perubahan konfigurasi kekuasaan di Eropa dan membentuk teori proses pemberadaban berdasarkan analisanya tersebut.

Dari judul lengkap buku ini dapat ditangkap dengan jelas bahwa Elias meneliti proses pemberadaban yang terjadi di Eropa dari sisi sosiologis dan psikologisnya. Namun menurut Richard Kilminster, berangkat dari kedua sisi itu, Elias sebenarnya menyampaikan pemahaman filosofis yang ditarik dari penelitian sosiologi dan psikologisnya itu untuk menyampaikan pesannya bahwa proses pemberadaban itu sebenarnya terjadi tidak hanya di Eropa tetapi juga menyangkut seluruh umat manusia dan terjadi di berbagai kebudayaan lainnya.[13] Selain itu Elias menekankan melalui teori proses pemberadaban bahwa yang disebut sebagai peradaban (civilization) bukan hanya suatu kondisi (state) melainkan suatu proses (process) yang terus berlangsung.[14]. Dengan menggunakan sejarah masyarakat Eropa dari akhir abad Pertengahan sampai abad kesembilan belas sebagai unit analisanya, proses pemberadaban ini menurut Elias terjadi melalui proses didesaknya individu sampai pada ambang batas rasa malu dan antipati (threshold of shame and repugnance) yang dimilikinya dalam hidup bermasyarakat. Perilaku yang dianggap melampaui ambang batas itu dengan sendirinya makin ditinggalkan dan akhirnya tereliminasi. Dalam Volume I digambarkan bagaimana tata cara berkaitan dengan makan, buang angin, meludah, buang ingus, tampil tanpa busana, dan perilaku di tempat tidur mengalami perubahan selama lima abad, dimana kebiasaan-kebiasaan yang dianggap ‘mengancam’ atau menimbulkan kesan kekerasan semakin ditinggalkan dan dianggap sebagai perilaku tidak beradab (barbar). Sebagai contoh, kebiasaan untuk menggunakan pisau di saat makan semakin ditinggalkan dan diganti dengan fungsi garpu yang dinilai ‘lebih tidak mengancam’ dibanding pisau. Pisau hingga saat ini tetap digunakan dalam tata cara makan Barat hanya untuk makanan-makanan yang memerlukan gerakan memotong yang cukup kuat, misalnya untuk memotong daging panggang.

Baca Juga :