Kesimpulan dan Tanggapan

Kesimpulan dan Tanggapan

Kesimpulan dan Tanggapan

Kesimpulan dan Tanggapan
Kesimpulan dan Tanggapan

Durkheim dalam buku The Rules of Sociological Method

ini, sebagaimana yang terlihat dalam dua bab pertamanya, jelas menunjukkan posisinya sebagai positivist empiricist dan meletakkan sosiologi sebagai suatu ilmu berdasarkan posisi itu. Positivisme empiris melihat bahwa realitas, dalam hal ini fakta sosial, “bersifat kasat-indra di luar sana, menunggu untuk ditemukan dan disistematisasikan oleh penelitian ilmiah sosial”. [18] Berdasarkan realitas diluar sana itulah teori baru dapat dibuat melalui sebuah proses ilmiah yang ketat.[19] Menurut George Ritzer, dalam sosiologi, Durkheim berada dalam paradigma “fakta sosial” dimana peneliti dikarakterkan bersifat pasif, yang berbeda dengan Max Weber, misalnya yang termasuk dalam paradigma “definisi sosial” dimana peneliti dikarakterkan bersifat aktif menginterpretasi.[20] Berkaitan dengan pendahulunya Auguste Comte yang juga merupakan sosiolog, Durkheim sendiri mengambil posisi yang berbeda dengan Comte, dimana tampak bahwa Comte masih bernuansa idealis, sementara Durkheim menegaskan keempirisannya.

 

Meskipun demikian posisi ini juga mendapat kritik

dari kaum positivis logis Lingkaran Wina, karena positivis empiris dan positivis logis berbeda dalam hal selektivitas data khususnya berkenaan dengan aturan kedua Durkheim dimana Durkheim menekankan pentingnya mencatat semua hal yang kita tangkap dari realitas sebagai data, sedangkan positivis logis menginginkan adanya seleksi terhadap realitas yang didata. Namun upaya Durkheim ini patut dihargai karena ini adalah upaya pertama untuk mendirikan sosiologi sebagai ilmu tersendiri, dengan menggunakan pendekatan positivisme empirisme yang menyerap dari ilmu-ilmu alam. Melalui pendekatan ini, realitas sosial yang merupakan “benda” diluar subyek diamati, dicatat dan dipahami sebagaimana adanya untuk menghasilkan teori tentang realitas itu. Dalam Filsafat Ilmu Sosial sendiri, positivisme empiris ini adalah babakan pertama dalam lima babakan yang ada hingga saat ini.[21] Positivisme logis memang merupakan babakan kedua setelah positivisme empiris yang mengkritik dan berusaha memperbaiki melalui kaca mata positivis, apa yang menjadi posisi positivis empiris seperti Durkheim.

 

Dalam pendekatan positivis empiris yang digunakan Durkheim

karena bentuk relasi antara realitas dan teori berjalan searah, maka tampaknya proses hermeneutika ganda tidak terlalu terlihat dalam pemikiran Durkheim. Hal ini pula tampaknya yang menjadi inti kritik Martin Hollis terhadap Durkheim yang menganggap Durkheim menempatkan pelaku sebagai manusia plastik, yaitu tidak bersifat otonom terhadap fakta sosial, namun merupakan produk dari fakta sosial yang membentuk dan mentransformasinya.[22]

Walaupun demikian Durkheim tetap membuka ruang bagi adanya perubahan fakta sosial, jika dan hanya jika pelaku membuat perubahan yang bersifat terus-menerus dalam melalui kurun waktu tertentu sehingga ada perubahan pada struktur yang memungkinkan adanya perubahan fakta sosial.[23] Karena itu kesejarahan dan institusionalitas tampaknya menjadi dua hal penting dalam pemikiran Durkheim, karena keduanya ditempatkan sebagai penanda untuk melihat ada tidaknya perubahan dan keberlangsungan (change and continuity) suatu masyarakat. Bagi Durkheim, perubahan itu pasti membutuhkan proses panjang yang ditandai dengan repetisi tindakan pelaku yang berulang dan konsisten dan adanya perubahan di dalam institusi suatu masyarakat atau perubahan institusi yang merupakan struktur masyarakat itu sendiri.

Sumber : http://devitameliani.blog.unesa.ac.id/jam-tangan-pengukur-tensi