Jangan Pernah Bully ABK, Mereka Istimewa!

Jangan Pernah Bully ABK, Mereka Istimewa!

Jangan Pernah Bully ABK, Mereka Istimewa!

Jangan Pernah Bully ABK, Mereka Istimewa!
Jangan Pernah Bully ABK, Mereka Istimewa!

Suasana bahu membahu, akrab, dan kekeluargaan terlihat dalam suasana belajar mengajar di Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) 7, Cipinang Besar, Jatinegara, Jakarta Timur. Siapa bilang anak berkebutuhan khusus (ABK) minder atau rendah diri? Justru di sekolah itu, mereka semuanya aktif dan bersemangat. Semuanya gembira untuk berlomba menunjukkan prestasi.

Kasus bullying terhadap mahasiswa berkebutuhan khusus di Universitas Gunadarma sungguh mencoreng dunia pendidikan tinggi. Cobalah tengok junior mereka di SLBN 7 ini. Dari mulai jenjang SD hingga SMA, semua ABK bersemangat belajar. Satu kelas terdiri dari maksimal tujuh anak.

Kepala Sekolah SLBN 7 Andriyastuti menjelaskan pengajaran yang dilakukan sudah dikelompokan dengan jenis ketunaannya atau kebutuhan khususnya. Misalnya tuna netra, tuna grahita dan tuna rungu atau tuna wicara. Di antara tuna grahita misalnya, ada juga yang berperilaku sebagai anak dengan autisme atau down syndrome hingga slow learner atau lambat belajar.
Jangan Pernah Bully ABK, Mereka Istimewa!
Suasana Belajar Mengajar di kelas Tuna Grahita SLBN 7 (Rieska/JawaPos.com)

“Kurikulumnya juga ada sendiri-sendiri, berbeda-beda. Sudah ditentukan oleh pemerintah dan oleh SLB bisa disesuaikan,” kata Andriyastuti kepada JawaPos.com.

Misalnya saat di kelas 1 ada materi membaca sederhana. Anak reguler atau anak normal mungkin bisa cepat mengikuti pendidikan atau kurikulum di sekolah reguler. Namun bagi anak ABK tentu ada perlakuan khusus, atau perlakuan istimewa.

“Di sini, tuna grahita misalnya dimulai dengan kenal huruf dulu atau kata dan suku kata. Sekadar untuk komunkmasi. Membacanya pun, membaca dengan melakukan gerakan. Tergantung tuna grahita sedang atau ringan,” jelasnya.

Di sana siswa diprioritaskan dengan sistem zonasi yakni sesuai usia dan

jarak tempat tinggal dekat dengan sekolah. Tentu dari awal masuk, siswa sudah membawa surat keterangan dari psikolog kemudian dilakukan tes intelejensi.

“IQ rendah misalnya, tapi bukan anak Idiot. Karena kalau idiot itu sama sekali tak bisa dididik. Umumnya tuna grahita di sekolah ini ringan hingga sedang,” katanya.

Andriyastuti meminta para orang tua ataupun masyarakat hingga generasi

muda jangan pernah meremehkan atau membully ABK. Pasalnya karena berkebutuhan khusus, mereka pun istimewa dan harus diperlakukan istimewa. Dia menyebutkan banyak ABK yang justru memiliki bakat seni yang terpendam hingga kemampuan akademis yang mengagumkan.

“Karena mereka istimewa, harus diperlakukan istimewa. Jangan salah dan

jangan anggap remeh, justru mereka banyak yang berprestasi. Banyak yang bisa main piano menang lomba hingga juara internasional,” tegasnya.

 

Baca Juga :