“Habitus” Bertanya

“Habitus” Bertanya

Table of Contents

“Habitus” Bertanya

“Habitus” Bertanya
“Habitus” Bertanya

Bertanya dan teruslah bertanya, tentang apa pun di sekelilingmu, juga tentang dirimu!” Itulah petuah YB Mangunwijaya (Romo Mangun) kepada siswa-siswi SD Mangunan, Sleman, Yogyakarta. Pelajaran unik pun dijalankan di SD eksperimen itu selain seni musik, yakni pelajaran bertanya.

Para siswa boleh bertanya tentang apa pun. Mereka dilatih berpikir dengan menyusun pertanyaan yang cerdas-esensial dalam suasana nalar dan budi polos-merdeka. Melalui berbagai pertanyaan yang dirumuskan sendiri, mereka diajak berimajinasi, melintasi aneka pengalaman individual, lalu bersama-sama menemukan rahasia alam dan kehidupan.

Romo Mangun (1929-1999) meninggalkan karya-karya monumental di bidang sastra dan arsitektur. Namun, warisan lain yang tidak boleh dilupakan: habitus bertanya. Apakah daya kalimat tanya? Sedemikian pentingkah habitus bertanya?

Daya komunikasi

Secara sintaktis, kalimat tanya (interogatif) memiliki struktur dan intonasi yang membedakannya dari kalimat berita (deklaratif) dan kalimat perintah (imperatif). Namun, secara pragmatis—dalam komunikasi empiris—kalimat tanya memiliki daya komunikasi yang mengantar mengemban sejumlah fungsi.

Pertama, kalimat tanya memantik komunikasi. Bermula dari sebuah pertanyaan, terjadilah komunikasi verbal, panjang atau pendek, lisan maupun tulisan, serius atau santai, ringan maupun berbobot. Di atas fondasi komunikasi, dapat dibangun budaya dialog yang—syukur-syukur—terbuka dan tulus. Komunikasi dan dialog amat diperlukan mulai dari ranah antar-individu, keluarga, korporasi, negara, hingga ”kampung” global-mondial.

Kedua, kalimat tanya memuat empati. Ada perhatian dan kepedulian penanya yang bermuara pada terciptanya relasi. Di dalamnya termasuk basa-basi yang oleh Malinowski dicakup konsep komunikasi fatis (phatic communion). Komunikasi fatis adalah penggunaan bahasa yang tidak berorientasi pada isi pembicaraan, tetapi demi mewujudkan relasi sosial. Jika diracik sesuai takaran, basa-basi merupakan bumbu harmoni sosial.

Ketiga, kalimat tanya etis dan estetis. Meski bermodus interogatif, kalimat tanya berkekuatan imperatif. Perintah dapat dikemukakan dengan kalimat tanya. Ucapan guru ”Siapa yang piket mengambil kapur?” adalah perintah, bukan pertanyaan. Dibandingkan kalimat perintah ”Ambilkan kapur!”, kalimat tanya terasa lebih etis dan estetis. Menurut Deborah Tannen (That’s Not What I Meant!, 1986), tuturan tidak langsung (indirect speech) semacam itu memang kurang lugas, tetapi sopan, solider, dan berselera seni ketimbang tuturan langsung (direct speech) yang terasa menonjolkan kekuasaan.

Sumber : https://silviayohana.student.telkomuniversity.ac.id/traffic-fever-apk/