Daya nalar

Daya nalar

Table of Contents

Daya nalar

Daya nalar
Daya nalar

Lebih dari sekadar berdaya komunikasi, kalimat tanya juga memiliki daya nalar. Naluri bertanya merupakan kekhasan manusia sebagai makhluk berpikir. Aktivitas berpikir secara inisial dan orisinal berwujud pertanyaan. Dengan bertanya, manusia berpikir. Pernyataan Rene Descartes ”Aku berpikir maka aku ada” (Cogito ergo sum) merupakan ungkapan senada dari ”Aku bertanya maka aku ada”. Dengan bertanya, manusia meng-ada.

Habitus bertanya sudah mentradisi jauh sebelum masa Descartes (1596-1650). Plato, Socrates, Aristoteles, dan para filsuf awal telah menggumuli berbagai pertanyaan ontologis, fenomenologis, epistemologis, hingga aksiologis sejak lebih dari 2.000 tahun lalu. Berkat pertanyaan-pertanyaan nakal-eksistensialnya, ilmu pengetahuan berkembang dan peradaban umat manusia tinggi menjulang.

Berbeda dengan daya komunikasi yang perlu diungkapkan, daya nalar kalimat tanya dapat hidup subur dalam ke-diam-an manusia. Diam bukan berarti tidak berpikir. Mulut terkunci, tetapi pikiran terus bergerak. Sekadar contoh, rakyat Indonesia semasa Orde Baru dikenal sebagai ”masyarakat diam” (silent community)—atau disebut Arief Budiman sebagai ”masyarakat ketakutan”. Demi menyelamatkan diri dari represi negara yang otoriter, rakyat memilih diam. Diam adalah emas. Prinsipnya: ABS ”asli” (asal bapak senang). Namun, sejatinya nalar tetap menjalar, hasrat berpikir terus bergulir, meski harus dibatin. Dalam keadaan ”normal”, habitus membatin seyogianya dipupus, sebab menyuburkan kemunafikan kolektif dan otoritarianisme. Jadi, diam agaknya tidak selalu emas.

Baca Juga :